Putin dan Xi Jinping Absen di Pertemuan BRICS Brasil

Putin dan Xi Jinping Absen di Pertemuan BRICS Brasil

Pertemuan puncak BRICS di Brasil memunculkan kejutan besar. Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Tiongkok Xi Jinping, memilih absen. Ketidakhadiran mereka langsung memicu spekulasi tajam. Dari berbagai kalangan. Banyak pengamat mempertanyakan arah baru aliansi ekonomi ini, sementara sebagian lainnya mencium tanda-tanda gesekan internal dalam tubuh BRICS.

Putin

Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, tetap membuka konferensi dengan penuh semangat. Ia menekankan pentingnya kerja sama ekonomi global yang lebih setara dan inklusif. Namun, atmosfer pertemuan terasa berbeda tanpa kehadiran dua pemimpin yang selama ini dikenal sangat vokal di forum tersebut.

Rusia dan Tiongkok Kirim Wakil, Tapi Tak Cukup

Meskipun tidak hadir langsung, Rusia dan Tiongkok tetap mengirimkan delegasi tingkat tinggi. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, serta Wakil Perdana Menteri Tiongkok, Ding Xuexiang, hadir untuk menyampaikan pandangan masing-masing negara. Namun begitu, absennya kepala negara menurunkan bobot politik pertemuan.

Banyak pemimpin negara anggota menyayangkan keputusan Putin dan Xi. Pasalnya, forum kali ini sangat krusial karena membahas perluasan keanggotaan, penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan, serta posisi BRICS terhadap krisis global, termasuk konflik Ukraina dan ketegangan di Laut China Selatan.

Putin Fokus pada Perang Ukraina

Putin memilih tetap berada di Moskow dan mengawasi langsung operasi militer Rusia di Ukraina. Tekanan global terhadap Rusia makin menguat seiring bantuan militer dari negara-negara Barat ke Ukraina. Dalam kondisi seperti ini, Putin merasa lebih penting menjaga kestabilan domestik dibanding menghadiri forum internasional.

Beberapa analis juga menilai bahwa absennya Putin merupakan bentuk penolakan halus terhadap dominasi isu-isu ekonomi yang bertentangan dengan kepentingan geopolitik Rusia. Ia menginginkan BRICS memberi perhatian lebih terhadap konflik global, bukan hanya ekonomi dan pembangunan.

Xi Jinping Utamakan Isu Dalam Negeri

Di sisi lain, Xi Jinping sedang menghadapi tantangan besar di dalam negeri. Perlambatan ekonomi, krisis properti, dan meningkatnya ketegangan sosial membuat Presiden Tiongkok itu memilih fokus pada urusan domestik. Ia juga tengah mempersiapkan Kongres Partai Komunis yang dijadwalkan berlangsung beberapa minggu setelah forum BRICS.

Beberapa sumber dari Beijing menyebutkan bahwa Xi sebenarnya ingin menghadiri pertemuan tersebut. Namun, kalkulasi politik internal dan kebutuhan menjaga stabilitas partai membuatnya memutuskan untuk tetap berada di tanah air.

BRICS Tetap Jalan, Tapi Tersendat

Meski forum tetap berjalan, absennya dua tokoh sentral memengaruhi dinamika pertemuan. Negara anggota lain seperti Brasil, India, dan Afrika Selatan terpaksa mengambil alih inisiatif diskusi. Mereka tetap mendorong pembentukan sistem keuangan alternatif dan penguatan kerja sama global Selatan.

Namun, tanpa Rusia dan Tiongkok, sejumlah agenda strategis tak mencapai kesepakatan. Misalnya, pembentukan mata uang BRICS sebagai alternatif dolar AS masih terganjal perbedaan pandangan. India masih berhati-hati, sementara Brasil belum menunjukkan kesiapan sistemik.

Reaksi Dunia: Simbol Keretakan atau Kalkulasi Diplomatik?

Ketidakhadiran Putin dan Xi langsung menyulut opini dari Barat. Banyak media Barat menafsirkan hal ini sebagai simbol retaknya soliditas BRICS. Mereka menyoroti bahwa ketidakhadiran dua pemimpin besar mencerminkan melemahnya konsensus di dalam blok tersebut.

Namun, beberapa pengamat geopolitik Asia dan Afrika menyampaikan pandangan berbeda. Mereka menilai keputusan Putin dan Xi lebih bersifat strategi diplomatik, bukan pertanda perpecahan. Menurut mereka, kedua pemimpin itu tengah menyusun peta jalan baru untuk memperkuat pengaruh bilateral mereka tanpa terlalu mengandalkan forum multilateral.

India dan Brasil Ambil Alih Panggung

Dalam situasi ini, India dan Brasil tampil sebagai motor penggerak. Perdana Menteri Narendra Modi memanfaatkan momentum untuk mempromosikan inisiatif ‘Global South Voice’ yang mengedepankan peran negara berkembang dalam percaturan global. Sementara itu, Presiden Lula da Silva mengajak seluruh anggota BRICS bersatu menghadapi tantangan krisis pangan dan iklim.

Keduanya berusaha menjaga kesinambungan pertemuan dan menepis anggapan bahwa BRICS sedang terpecah. Mereka mendorong pembentukan sistem keuangan alternatif yang lebih adil, memperluas kerja sama digital, dan meningkatkan perdagangan lintas kawasan.

Agenda Penting Tetap Dibahas

Meskipun tidak lengkap, negara-negara BRICS tetap mendiskusikan sejumlah agenda penting. Topik seperti pendirian bank pembangunan baru (NDB), pemanfaatan mata uang lokal untuk ekspor-impor, dan rencana keanggotaan tambahan tetap menjadi prioritas.

Afrika Selatan, misalnya, menekankan pentingnya pembiayaan proyek infrastruktur di Benua Afrika. India mendorong kerja sama teknologi dan inovasi digital. Brasil fokus pada perdagangan komoditas dan reformasi struktur ekonomi global.

Ke Mana Arah BRICS Selanjutnya?

Absennya Putin dan Xi membuka ruang refleksi bagi anggota BRICS lainnya. Mereka kini menyadari bahwa ketergantungan pada dua sosok besar bisa menjadi kelemahan tersendiri. Maka, forum kali ini memberi isyarat bahwa BRICS harus membangun struktur kolektif yang lebih seimbang, tidak terpusat pada figur tertentu.

Selain itu, anggota BRICS perlu memperkuat kohesi ideologis agar mampu menjawab tantangan geopolitik dunia yang kian kompleks. Tanpa kesatuan arah, aliansi ini akan kesulitan bersaing dengan blok besar lain seperti G7 atau G20.

Penutup: BRICS Butuh Fondasi Baru

Putin dan Xi memang absen, tetapi tantangan tetap hadir. Kini, anggota BRICS harus membuktikan bahwa solidaritas mereka tidak hanya bergantung pada dua tokoh kuat. Justru melalui dinamika ini, forum bisa menguji daya tahan dan fleksibilitasnya.

Jika anggota BRICS mampu merumuskan pendekatan baru yang lebih kolektif, transparan, dan relevan dengan kebutuhan negara berkembang, maka ketidakhadiran dua pemimpin itu bukan kemunduran, melainkan awal dari transformasi. Dunia sedang menanti apakah BRICS bisa melampaui ketergantungan pada figur, dan benar-benar menjadi kekuatan global yang seimbang.

Baca Juga: Korban Tewas Kapal Tenggelam di Selat Bali Bertambah

25 Komentar

  1. Refer friends and colleagues—get paid for every signup! https://shorturl.fm/e4eGe

  2. Earn up to 40% commission per sale—join our affiliate program now! https://shorturl.fm/eGZE6

  3. Promote our products and earn real money—apply today! https://shorturl.fm/XDDfB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *